Kamis, 02-04-2026
  • Selamat datang di Website Posyandu Balita "Mangga". Website ini sebagai Media Edukasi dan Pencegahan Stunting di Posyandu "Mangga" Desa Tumpangkrasak Jati Kudus

Sejarah Desa

Konon Desa Tumpangkrasak sudah ada sejak jaman dulu semasa para Wali Sanga, namun tidak ada bukti tertulis. Berdasarkan cerita dari para sesepuh, ada pendahulu sebagai cikal bakal desa, seseorang yang bernama Mbah Djaja Wirja (Djaya = jaya, menang; dan Wirja = wirya, bahasa Kawi = liat, kuat atau orang yang mempunyai kelebihan), beradu ilmu dengan anaknya Sunan Muria (bisa jadi anak itu muridnya). Ketika itu, Mbah Djaja Wirja (atau dalam cerita lain, disebut Dalang Sopo Nyono) sedang aso (istirahat) sambil dolanan bothekan (dakonan) itu ditanyai oleh anaknya Sunan Muria, namun sampai seperti adu mulut, maka terjadilah duel yang sangat dahsyat dan mengakibatkan dolanan bothekan tersebut temumpang (asal kata Tumpang) di pohon, karena kesaktian kedua tokoh tersebut sampai mengakibatkan angin kencang, sehingga dolanan bothekan tersebut jatuh kemrasak (asal kata Krasak) sampai ke wetan kali. Tempat tersebut ditandai dengan petilasan Punden Mbah Djowiryo Mukso (muksa artinya musnah, hilang) letaknya dekat Jalan Raya Kudus – Pati utara jalan, masuk wilayah RT 03 RW 02 sekarang sebelah utara jalan ikut Dusun Badongan. Mungkin karena Mbah Djaja Wirja sering diasumsikan dengan Dalang Sopo Nyono, maka sampai sekarang orang dari Pati (termasuk Desa Hadipolo sampai Desa Terban) kalau mempunyai hajat sering manganan (selamatan) di Punden Mbah Djowiryo Mukso. Demikian sekelumit penuturan sejarah asal-usul nama Desa Tumpangkrasak.

Selain itu, ada beberapa petilasan para pendahulu desa lainnya, seperti makam : Mbah Gledheg di RT 03 RW 04 Dusun Krajan, Mbah Djajengrana (Jayengrono) Dusun Krajan di sebelah barat Masjid Baitul Muqoddas dan Mbah Surgipati di Makam Desa Dusun Krasak. Dengan demikian Desa Tumpangkrasak mempunyai 4 (empat) pepundhen yang sangat dihormati sebagai leluhur para pendahulu dan selalu diperingati dengan buka luwur atau haul setiap tahun pada bulan Suro/Muharram.

Menurut penuturan sesepuh, sebelum ada pemerintahan di Desa Tumpangkrasak, mula-mula desa dipimpin oleh seorang panepuluh (danyang) yaitu, Siti Djuwariyah keturunan orang sabrang yang membuka dusun Tumpang, sehingga beranak-pinak dan kepemimpinannya secara turun-temurun sampai yang terakhir pemimpinnya bernama Siti Kotidjah. Pada jaman Hindia Belanda, pengaturan dusun Tumpang digabungkan dengan dusun Krasak – setelah dipecah 3 bagian dusun, 1 bagian ikut Desa Dersalam Kec. Bae menjadi dusun Salam Kidul dan yang 1 bagian lagi ikut Desa Ngembal Kulon menjadi dusun Krasak juga – dari gabungan 2 dusun tersebut ditambah dusun Badongan, sehingga menjadi Desa Tumpangkrasak yang dipimpin oleh Petinggi (Kepala Desa) bernama R. Karto Widjojo adik dari Siti Kotidjah.

Adapun pusat pemerintah desa yang dahulu biasanya berada di rumah Petinggi (Kepala Desa) dulu ada pendhapa/paseban-nya seperti kediaman : R. Karto Widjojo, R. Kasno Widjojo, R. Soedjarwo, dan Karmani Rijanto, kini sudah tidak ada semua. Sejak tahun 1974 berdirilah kantor Kepala Desa sekaligus Balai Desa di Jalan Desa Tumpangkrasak No. 230 pada kepemimpian Bapak Karmani Rijanto kemudian direhab total pada masa Kepala Desa Masri Sutrisno dan pembangunan dilanjutkan oleh Kepala Desa Bambang Gunarjo dan masih terus disempurnakan lagi sehingga menjadi bangunan bersejarah bagi Desa Tumpangkrasak.

Apabila diurutkan kepemimpinan di Desa Tumpangkrasak dahulu sampai sekarang ada estafet kepemimpinan, istilahnya mendapatkan wahyu atau pulung para leluhur. Boleh jadi para petinggi ini masih ada hubungan keturunan ataupun kekerabatan. Berikut ini nama-nama kepala pemerintahan/Petinggi/Kepala Desa Tumpangkrasak :

  1. R. Karto Widjojo (jaman Hindia Belanda);
  2. R. Kasno Widjojo (jaman Hindia Belanda);
  3. R. Soedjarwo (jaman Hindia Belanda sampai pendudukan Jepang);
  4. Karmani Rijanto (1945 – 1987);
  5. Masri Sutrisno (1988 – 2006);
  6. Bambang Gunarjo (2007 – 2019).
  7. Sarjoko Saputro (17 Desember 2019-sekarang)