Senin, 25-05-2026
  • Selamat datang di Website Posyandu Balita "Mangga". Website ini sebagai Media Edukasi dan Pencegahan Stunting di Posyandu "Mangga" Desa Tumpangkrasak Jati Kudus

Dampak Stunting pada Anak

Diterbitkan :

Saat ini masalah kesehatan stunting pada balita menjadi program prioritas pemerintah yang harus segera ditangani. Kejadian stunting pada balita Indonesia sebesar 24,4%, tergolong tinggi menurut WHO yaitu > 20%. Ini berarti hampir 1 dari 4 balita di Indonesia mengalami stunting.

Stunting adalah kondisi terjadinya gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak yang diakibatkan oleh kekurangan asupan gizi dalam waktu lama, sering mengalami sakit atau infeksi, maupun kurangnya stimulasi secara psikis maupun sosial. Salah satu tanda anak yang stunting yaitu memiliki tubuh lebih pendek dibandingkan dengan tinggi badan anak seusianya.

Dalam jangka pendek, selain memiliki tinggi tubuh yang lebih pendek akibat terganggunya pertumbuhan, anak yang stunting berisiko mengalami gangguan perkembangan otak yang menyebabkan penurunan kemampuan koqnitif sehingga menurunkan tingkat kecerdasan anak. Risiko kejadian sakit pada anak stunting juga lebih tinggi diakibatkan rendahnya imunitas tubuh. Anak yang mengalami stunting berisiko 4,9 kali lebih besar daripada anak yang tidak stunting.

Kondisi stunting tidak hanya berdampak ketika masih anak-anak. Berdasarkan Kemenkes, anak stunting ketika dewasa lebih berisiko mengalami berbagai jenis penyakit tidak menular seperti hipertensi, obesitas, diabetes mellitus yang akan berpotensi menurunkan kualitas hidupnya. Produktivitas kerja yang lebih rendah juga menyebabkan anak yang stunting Ketika dewasa akan kalah bersaing di dunia kerja sehingga berpotensi menurunkan tingkat kesejahteraan

Masalah stunting dapat dicegah sejak masa kehamilan yakni dengan memenuhi kebutuhan gizi sejak masa kehamilan. Dimulai dengan ibu yang selalu mengkonsumsi makanan sehat bergizi dan rutin memeriksakan kandungan. Kemudian yang kedua, ibu memberikan ASI Eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan. Ketika bayi berusia 6 bulan keatas disarankan untuk makanan pendamping ASI (MPASI). Tindakan selanjutnya adalah terus memantau tumbuh kembang anak, terutama tinggi badan dan berat badannya. Ibu dapat membawa anak ke posyandu maupun klinik anak untuk memantau tumbuh kembang anak.
Selanjutnya, pentingnya menjaga kebersihan lingkungan anak dapat menjadi salah satu tindakan pencegahan anak agar tidak mudah terserang penyakit


Referensi:
https://p2ptm.kemkes.go.id/kegiatan-p2ptm/subdit-penyakit-diabetes-melitus-dan-gangguan-metabolik/stunting-ancaman-generasi-masa-depan-indonesia

https://www.who.int/news/item/19-11-2015-stunting-in-a-nutshell

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan